Begini Cara Penerapan Strategi Harga untuk Penjualan Perumahan

strategi harga perumahan

Penerapan harga atau pricing strategy bisa memainkan peranan penting untuk suksesnya penjualan proyek perumahan. Untuk itu kita perlu perencanaan yang matang tentang penerapan harga ini. Ada beberapa tahapan proyek yang bisa dijadikan patokan untuk menerapkan strategi harga.

Pada Saat Proyek Dilaunching

Pada tahapan ini biasanya kebanyakan developer memberikan potongan harga yang lumayan besar. Adalah lazim jika pada tahapan ini developer hanya mengambil laba sekitar sepuluh sampai lima belas persen saja dari Harga Pokok Produksi (HPP), bahkan bisa di bawah itu jika developer mengandalkan cash flow dari penjualan unit.

Potongan harga yang diberikan biasanya di-balance dengan sistem pembayaran yang menguntungkan developer, seperti hard cash atau cash bertahap dengan jangka waktu pendek.

Pada Saat Proyek Mulai Pembangunan Infrastruktur

Pada tahapan ini developer biasanya menerapkan harga yang masih di bawah harga normal. Pembangunan tahap awal berupa pembangunan fasilitas umum dan fasilitas sosial berupa jalan perumahan, saluran, taman, gerbang dan fasilitas lain yang bisa menarik calon konsumen.

Pada Saat Proyek Mulai Pembangunan Unit

Pada tahapan ini lokasi proyek sudah matang dan siap bangun, harga yang ditetapkan adalah harga normal yaitu sekitar tigapuluh sampai dengan empatpuluh persen dari HPP. Penerapan harga normal ini tergantung pada developer, sesuai dengan hasil analisa yang dilakukan.

Pada Saat Penjualan Sudah Mencapai 75 %

Pada tahapan ini proyek sudah dalam tahapan akhir, penjualan biasanya lebih pelan. Developer harus pintar-intar menerapkan strategi harga supaya proyek sukses dijual sampai unit terakhir. Strategi yang bisa diterapkan adalah dengan memberikan added value kepada unit yang tersisa. Cara lainnya yang bisa dipakai adalah dengan memberikan komisi yang lebih besar kepada tenaga penjual.

Pada Saat Sisa Unit yang Menderita yang Tersisa

Pada tahapan akhir proyek biasanya yang tersisa adalah unit yang berada di lokasi yang dipahami kurang hoki, diantaranya tusuk sate, ngipas, bentuk tanah tidak beraturan karena berlokasi di pinggir dan lain-lain. Kavling yang menderita seperti ini tidak mungkin dihindari dalam sebuah kawasan. Pintar-pintar arsiteklah mendisain supaya bisa meminimalisir jumlah penderita dan penderitaan kavling ini.. hehehe…

Banyak orang memahami bahwa posisi tusuk sate sebagai lokasi yang tidak hoki. Tapi sebenarnya rumah yang berada di lokasi ini tidak bagus karena kurang nyaman. Penghuni akan terganggu oleh cahaya dari kendaraan yang datang tegak lurus terhadap rumahnya. Bagi saya itu saja. Tetapi ada orang-orang tertentu yang memahami bahwa lokasi ini seperti mengandung aura negatif yang berpengaruh kepada penghuninya. Entah iya entah tidak

Sementara rumah yang berbentuk ngipas yaitu rumah yang bentuk tanahnya lebih lebar di depan dibanding di belakang. Ada yang memahami bahwa orang yang tinggal di rumah dengan bentuk tanah seperti ini tidak akan bisa menabung karena jalan keluar uang lebih besar dibanding uang masuk, yang digambarkan oleh lebih lebarnya tanah di bagian depan. Walah…

Lawan tanah ngipas ini adalah ngantong, sebagian orang memahami bahwa tanah ngantong mengandung hoki karena uang banyak masuk tetapi jalan keluarnya lebih kecil, sehingga pemiliknya bisa cepat kaya. Ciri-ciri tanah ngantong yaitu lebar tanah bagian depan lebih kecil dibanding lebar tanah bagian belakang. Hehehehe… entah iya juga entah tidak.. kembali ke pemahaman masing-masing.

Solusi untuk tanah tusuk sate

Jual dengan harga yang lebih rendah untuk unit ini. Atau dengan memberikan luas yang lebih besar dibandung kavling normal. Secara fisik bisa juga dibuatkan pagar massif yang melindungi area penghuni dari gangguan cahaya kendaraan dari depan.

Solusi untuk tanah ngipas dan bentuk tidak beraturan

Berikan luas tanah lebih untuk kavling ini sehingga rumah memiliki lebih banyak area terbuka. Dimana, area terbuka bisa menjadi penarik minat calon konsumen karena bisa dimanfaatkan untuk taman atau untuk penggunaan lainnya.

Karena sudah menjadi kodrat konsumen bahwa mereka lebih menyukai tanah yang lebih luas. Tetapi rumah tetap didisain sesuai dengan bentuk unit lain karena berhubungan dengan estetika kawasan. Soal harga, sesuai dengan harga normal juga ngga apa-apa.

Ini beberapa solusi praktis saja dari saya, dalam pelaksanaan proyek tidak harus seperti ini karena setiap lokasi dan konsumen memiliki kondisi unique tersendiri, sehingga perlu penerapan strategi dan improvisasi tersendiri untuk masing-masing lokasi.

Sudah jamak terjadi ada perumahan atau produk property yang terjual banyak pada saat launching bahkan sold out pada saat penjualan perdana. Dengan demikian strategi di atas tidak diperlukan lagi. Hehehe…

Good luck!

Leave a Reply